BrataNewsTV – Kekecewaan mendalam melanda warga Lingkungan (LK) 4 dan 9 di Kelurahan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara. Ratusan warga, dengan semangat tak tergoyahkan, turun ke jalan untuk menyuarakan protes atas kondisi Jalan AK Gani. Jalan yang seharusnya menjadi kebanggaan provinsi ini kini lebih mirip ladang berbatu yang tak layak disebut jalan raya.
Jalan ini, yang menjadi urat nadi penghubung antara Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Way Kanan, berada dalam kondisi hancur lebur. Ironisnya, jalur ini adalah akses utama bagi pengangkutan hasil bumi seperti kopi, lada, jagung, dan berbagai komoditas pertanian lainnya yang menopang ekonomi lokal.

Salah satu warga di Kelurahan setempat, Reki, tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya terhadap pengabaian pemerintah yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ia mencatat dengan pahit bahwa banyak pemimpin datang dan pergi, namun kondisi jalan mereka tetap luput dari perhatian. “Berapa banyak janji yang telah diucapkan? Kami sudah lelah menunggu,” ungkap Reki dengan nada penuh harapan yang mulai pudar.
Sebagai bentuk protes sekaligus upaya menjaga keselamatan pengguna jalan, warga akhirnya memutuskan untuk bertindak. Secara gotong royong, warga Lingkungan 4 dan 9 mengumpulkan dana swadaya untuk melakukan pengecoran pada bagian tanjakan yang paling berbahaya.
“Kekecewaan ini kami tunjukkan dengan kerja nyata. Kami mengecor tanjakan ini atas nama warga. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami ingin menyampaikan bahwa kami ini warga negara dan jalan ini milik negara. Apa bedanya dengan jalan-jalan lain yang selalu mendapatkan anggaran pembangunan dari pemerintah?” tambah warga lainnya dengan semangat yang membara.

Warga Bukit Kemuning berharap Pemerintah Provinsi Lampung segera membuka mata dan memasukkan perbaikan Jalan AK Gani ke dalam skala prioritas anggaran tahun ini. Mereka merasa dianaktirikan, karena infrastruktur di wilayah lain terus bersolek, sementara jalur distribusi ekonomi di wilayah mereka dibiarkan menyerupai kubangan dan batu terjal.
Kondisi ini tidak hanya menghambat perputaran ekonomi hasil panen warga, tetapi juga mengancam keselamatan pengendara yang melintas setiap harinya.
“Warga menegaskan akan terus menyuarakan kondisi ini hingga ada tindakan nyata dari pihak berwenang. Reki dan Leni, bersama warga lainnya, bertekad untuk memperjuangkan hak mereka demi masa depan yang lebih baik.
Sampai berita ini di turunkan pihak pihak yang terkait belum dapat di konfirmasi atas keluh kesah masyarakat di Kelurahan Bukit Kemuning tersebut,- (Leni/Red)














