BANTEN, BrataNewsTV – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai “Londo Ireng” pada Harlah PKB Kamis (23/7/2026) memicu respons kritis dari kalangan aktivis dan budayawan. Jacob Ereste, aktivis dan penulis yang memiliki jaringan luas dengan kaum pergerakan, menegaskan bahwa istilah tersebut bukan sekadar candaan politik, melainkan label anti-nasionalisme yang sangat berbahaya jika dilontarkan oleh seorang kepala negara.
Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (26/7/2026), Jacob menjelaskan makna mendalam “Londo Ireng” dalam budaya Jawa. Istilah ini merujuk pada sosok pribumi yang berwatak seperti penjajah Belanda: menindas, menggerogoti martabat bangsa, dan mementingkan diri sendiri tanpa pertimbangan kemanusiaan. “Dalam pengertian sederhana, Londo Ireng adalah manusia pribumi Indonesia yang anasionalis. Tidak peduli dengan nilai-nilai kebangsaan yang harus dijunjung tinggi,” tegasnya.
Retorika Feodal di Tengah Sensitivitas Politik
Jacob menilai penggunaan istilah ini oleh presiden sangat tidak tepat waktu dan konteks. Di tengah tensi politik yang memanas dan dugaan pengalihan isu dari sejumlah masalah besar, pelabelan massal terhadap profesi tertentu justru terasa menggigit dan menyengat. Ia mengingatkan bahwa negeri ini milik bersama, bukan warisan dinasti pribadi.
“Pernyataan beliau acap terlepas komentar yang tidak pas, seperti sungutan terhadap aktivis atau mempersilakan yang tidak setuju untuk meninggalkan Indonesia. Ini sungguh tidak bijak dan tidak elegan untuk pejabat publik. Suasana feodal dan kolonial menjadi sangat terasa mengganggu hidup di alam nyata republik,” ujarnya.
Sejarah “Londo Ireng” vs Nasionalisme Profesi Pers
Jacob juga menyoroti ironi penempelan label ini pada profesi pers dan LSM. Sebagai contoh historis, ia menyebutkan kasus Tawalijn Sigar dari Manado yang membantu Belanda menangkap Pangeran Diponegoro pada 1830. Meskipun idiom “Londo Ireng” populer di Yogyakarta, Jacob menekankan bahwa menempelkannya pada profesi yang sarat nilai nasionalisme adalah penghinaan terhadap semangat kebangsaan.
“Madajah (istilah) Londo Ireng jadi terkesan sangat negatif ketika ditempelkan pada profesi pekerjaan tertentu yang justru sangat sarat dengan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia. Profesi ini patut dikunjungi tinggi oleh segenap warga bangsa yang sejati,” pungkasnya.
Desakan Refleksi Kepemimpinan
Kritik Jacob Ereste bukan sekadar membela kelompok profesi, tetapi mengingatkan bahaya normalisasi retorika kolonial di ruang publik. Publik menilai, pemimpin bangsa seharusnya menggunakan bahasa yang mempersatukan dan mencerdaskan, bukan mewariskan trauma masa lalu melalui diksi yang memecah belah.
Hingga berita ini diturunkan, Istana Kepresidenan belum memberikan klarifikasi resmi. Kalangan masyarakat sipil mendesak Prabowo untuk merefleksikan dampak retorikanya terhadap kohesi sosial dan integritas pilar-pilar demokrasi yang selama ini menjaga kedaulatan NKRI. (Red)














