SIDOARJO/JAWA TIMUR, BrataNewsTV – Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali menjadi sorotan tajam setelah insiden mengerikan terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Pada Senin (1/9/2026), sedikitnya 120 santri dilarikan ke berbagai rumah sakit akibat dugaan keracunan makanan dari paket MBG.
Insiden ini bukan sekadar gangguan pencernaan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa rantai pasok MBG masih rapuh, pengawasan lemah, dan nyawa peserta didik dipertaruhkan demi target realisasi anggaran.
Berdasarkan pantauan lapangan, gejala awal muncul usai para santri menunaikan salat Zuhur. Namun, kondisi memburuk drastis saat waktu Asar. Puncaknya, setelah Magrib, suasana pesantren berubah menjadi panik. Puluhan ambulans hilir-mudik mengevakuasi santri yang muntah-muntah, lemas, dan mengalami dehidrasi akut.
Data sementara menunjukkan sebaran korban yang masif:
* RSUD Sidoarjo: 80 santri (kondisi kritis hingga stabil)
* RS Siti Hajar: 19 santri
* RS Delta Surya: 12 santri
* RS Pusura Gelam: 9 santri
Jumlah ini masih berpotensi bertambah. Ketegangan terlihat jelas di luar gerbang pesantren, di mana puluhan orang tua/wali santri berkumpul dengan wajah cemas, menunggu kepastian nasib anak-anak mereka yang menjadi “kelinci percobaan” program negara.
Investigasi awal mengarah pada makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Meski detail menu belum dirilis resmi, pola keracunan massal di pesantren sering kali dikaitkan dengan olahan telur atau protein hewani yang tidak disimpan dalam suhu aman (cold chain putus).
Publik bertanya: Bagaimana mungkin makanan yang diklaim “bergizi” dan “aman” justru menjadi sumber penyakit? Apakah ada kelalaian dalam proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi oleh vendor SPPG?
Fakta bahwa lokasi pesantren kini dijaga ketat oleh personel TNI menunjukkan betapa seriusnya dampak sosial dari insiden ini. Kehadiran aparat bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga mengindikasikan potensi keresahan massa jika penanganan medis dan transparansi informasi tidak segera diberikan.
Ini adalah peringatan keras bagi penyelenggara MBG. Ketika keamanan pangan gagal, stabilitas sosial terancam.
Insiden di Sidoarjo ini menambah daftar panjang kegagalan implementasi MBG di berbagai daerah. Sebelumnya, kasus serupa juga sempat mencuat di Jombang dan Ngawi. Pola yang sama berulang: tergesa-gesa dalam distribusi, lemah dalam pengawasan kualitas, dan abai terhadap standar higienitas.
Masyarakat berhak menuntut jawaban:
1. Siapa yang Bertanggung Jawab? Apakah vendor SPPG Kalitengah memiliki sertifikat laik hygiene? Siapa pejabat yang meloloskan mereka?
2. Mengapa Pengawasan Longgar? Di mana peran dinas kesehatan setempat dalam memantau sampel makanan sebelum dibagikan ke ratusan santri?
3. Masih Layakkah MBG Dipertahankan? Jika setiap bulan ada laporan keracunan, apakah program ini benar-benar untuk “mencerdaskan bangsa” atau justru “meracuni generasi”?
Program makan gratis adalah ide mulia, tetapi eksekusi yang buruk akan membunuh esensinya. Nyawa 120 santri di Sidoarjo adalah harga mahal yang harus dibayar atas kelalaian birokrasi.
Pemerintah harus segera melakukan audit total terhadap seluruh rantai pasok MBG di Jawa Timur. Jangan tunggu ada korban jiwa baru bertindak. Hentikan distribusi dari vendor bermasalah, usut tuntas kelalaiannya, dan pastikan setiap suap makanan yang masuk ke mulut anak bangsa benar-benar bergizi, bukan berisi bakteri mematikan.
BrataNewsTV akan terus memantau perkembangan kesehatan para santri dan tindak hukum terhadap pihak-pihak yang lalai.
(Penulis/Editor: Redaksi BrataNewsTV)














