MASIF HANTU GURANDIL DI PONGKOR: 11 TAHUN PASCA “PEMBERSIHAN TOTAL”, LUBANG ILEGAL CIGUHA MASIH AKTIF

Reporter dari Brata News TV
banner 120x600

BOGOR, BrataNewsTV – Janji manis untuk “pembersihan        total” dan transformasi wisata      di      Kampung   Ciguha,    Desa Bantarkaret,     Kecamatan    Nanggung, ternyata hanyalah ilusi semu. Sebelas tahun setelah operasi gabungan besar-besaran TNI-Polri-PT Antam pada 2015 yang memusnahkan ribuan bangunan liar, aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau gurandil masih hidup subur di perut Gunung Pongkor. Warga setempat, Fulan (nama samaran), kepada BrataNewsTV pada Rabu (29/9/2026) membongkar fakta pahit ini: lubang-lubang maut itu belum pernah benar-benar mati.

Pemerintah Kabupaten Bogor dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk UBPE Pongkor sempat bangga meluncurkan program Save Cikaniki dan mengalihfungsikan lahan bekas tambang menjadi objek wisata edukasi Ciguha River pada 2022. Namun, di balik pesona alam yang dipromosikan, aktivitas gurandil—baik warga pendatang maupun lokal—masih beroperasi secara klandestin di area konsesi IUP Antam.

Fulan mengungkapkan bahwa masa kejayaan liar (1995–2015) mungkin telah berlalu, tetapi semangat untuk mengeruk emas ilegal tidak pernah padam. Urat emas Ciguha, bersama Ciurug dan Kubang Cicau, tetap menjadi magnet bagi ribuan penambang yang nekat mempertaruhkan nyawa demi sepotong logam mulia.

BACA JUGA:  BAKAL DI SUSPEND SPPG Berdampingan Dengan RM/CAPE/TPA/SPBU

Kegagalan memberantas PETI secara tuntas bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi krisis kemanusiaan. Aktivitas kucing-kucingan di lubang-lubang sempit bawah tanah terus memakan korban jiwa. Runtuhan tanah, minimnya oksigen, dan keracunan gas karbon monoksida dari generator ilegal menjadi pembunuh diam-diam yang setiap saat siap merenggut nyawa gurandil.

Lebih parah lagi, dampak lingkungan masih terasa hingga kini. Penggunaan sianida dan merkuri dalam jumlah besar oleh penambang liar terus mencemari Sungai Cikaniki, sumber air vital bagi warga sekitar. Upaya pemulihan lingkungan lewat wisata seolah tertutupi oleh realitas pencemaran yang masih berlangsung di titik-titik buta pengawasan.

BACA JUGA:  KETUM KWIP DEFERI ZAN ANCAM LAPOR MABES POLRI ATAS PENGEROYOKAN KETUA KWIP MERANGIN

Operasi penertiban memang masih rutin dilakukan, termasuk pengamanan 14 penambang ilegal di Blok Kaca pada akhir September 2026. Namun, frekuensi penangkapan yang terus terjadi satu dekade pasca-deklarasi “bebas PETI” membuktikan bahwa pendekatan represif semata gagal memutus mata rantai ekonomi ilegal ini.

Publik bertanya: Apakah transformasi Ciguha menjadi destinasi wisata hanya sekadar kosmetik politik untuk menutupi kegagalan tata kelola pertambangan rakyat? Mengapa setelah miliaran rupiah dikucurkan untuk pemulihan, lubang-lubang galian yang penuh racun dan risiko kematian masih mudah diakses?

Hingga aparat mampu menjamin bahwa tidak ada lagi gurandil yang beroperasi di Gunung Pongkor, narasi kesuksesan pemulihan lingkungan di Ciguha akan selalu terasa pahit. Wisata boleh jadi indah, tapi jika dibangun di atas fondasi kelalaian yang masih mengancam nyawa dan mencemari air minum warga, maka keindahan itu hanyalah topeng dari sebuah kegagalan sistemik yang berkepanjangan.

BACA JUGA:  Legislator Gerindra Rahmawati: Desa Wisata Naik Kelas Jangan Ditinggal

(Tim Investigasi BrataNewsTV)

banner 325x300