TULANG BAWANG, BrataNewsTV – Negara kini sedang jor-joran. Dua program dengan dana jumbo digembar-gemborkan sebagai bukti kehadiran negara di pelosok. Seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang memakan anggaran ratusan triliun, jeritan tangisan rakyat terabaikan.
Inilah wajah dari infrastruktur yang berada di Desa Pasiran Jaya, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Prov Lampung. Di sana, infrastruktur jalan bukan lagi sarana mobilitas, melainkan kubangan lumpur yang menelan harapan,- kata salah satu warga setempat, Sulam Taufik, Rabu, 1/7/2026.

Antara gemuruh janjinya Presiden Prabowo Subianto dan jeritan warga desa, terdapat jurang pengabaian yang begitu lebar hingga memalukan.
Jalan poros Pasiran Jaya, kini lebih pantas disebut “Jalan Seribu Kubangan”. Lubang – lubang raksasa, genangan air dan lumpur hancur lebur telah melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Petani tidak bisa mengangkut hasil bumi, anak sekolah berjuang menembus lumpur demi menuntut ilmu, dan warga biasa pun terjebak di dalam isolasi infrastruktur yang menyedihkan. Ini bukan sekadar kerusakan fisik, ini luka terbuka bagi kemanusiaan di tengah eranya pembangunan yang katanya masif,” tutur Sulam dengan nada gemetar.
Perjuangan saya sendiri ujar Sulam Taufik, sebagai pejuang hati nurani yang mencoba membawa suara Pasiran Jaya hingga ke pintu Istana Merdeka. Membawa harapan warga Pasiran Jaya. Namun, faktanya? dari perjuangan yang memilukan terasa hampa dan sia-sia.
Suara dari pelosok Tulang Bawang seolah ditelan angin lalu di Jakarta, sementara ini birokrasi daerah terus menutup mata atau berpura-pura sibuk dengan proyek-proyek mercusuar yang masih jauh dari kebutuhan mendesak warga.
Bagaimana mungkin negara, pemerintah ini bangga dengan anggaran triliunan rupiah, tapi membiarkan warganya mandi lumpur hanya untuk mengakses layanan dasar?

Aksi protes kreatif warga yang berendam dan menangkap ikan di kubangan jalan pada April 2026 lalu bukanlah hiburan, itu adalah tangisan putus asa yang dibungkus ironi. Mereka tertawa di atas lumpur karena menangis sudah tidak lagi didengar,” tutup Sulam.
Dilain sisi dan sudut pandang, pemerintah kini sedang terfokus dengan dua program, dan menciptakan ladang korupsi gaya baru, kehilangan fondasi yang kokoh.
Pembangunan tidak boleh hanya dihitung dari angka alokasi anggaran, tetapi begitu seberapa banyaknya nyawa byang mampu terselamatkan dan seberapa layak manusia hidup di tanah pertiwi sendiri.
Ketika jalan rusak tapi dibiarkan begitu saja bertahun- tahun, itu bukan lagi soal teknis pemeliharaan tetapi ini merupakan cermin dari prioritas politik yang salah arah.
Masyarakat Desa Pasiran Jaya tidak butuh simpati.” Mereka butuh infrastruktur layak, bukan basa-basi. Mereka butuh kepastian, bukan janji manis yang menguap seiring pergantian musim hujan. Jika negara benar – benar hadir, maka hadirlah saat ini juga di lumpur Pasiran Jaya, bukan hanya sekedar di podium pidato.
Hentikan pengabaian! Kembalikan marwah pembangunan dengan memperbaiki apa yang paling dasar. Karena sejatinya, suatu kemegahan sebuah bangsa tak diukur dari seberapa tinggi gedung yang dibangun, tapi dari seberapa rendah hati pemimpin yang mau turun menyentuh lumpur kehidupan rakyatnya.
(BrataNewsTV/Opini Khusus)













