Baca dan Nonton Berita dalam Satu Genggaman
LoginIndeks

Berani Bongkar Praktek BBM Ilegal – Ernawati Jadi Korban Fitnah dan Nyawa Terancam

banner 120x600

GOWA, BrataNewsTV – Harga mahal harus dibayar oleh seorang perempuan yang berani membongkar praktik kotor penimbunan solar bersubsidi di Limbung, Kabupaten Gowa. Ernawati, warga sipil yang melakukan investigasi independen, tidak hanya menjadi korban pengeroyokan brutal dan perampasan barang berharga, tetapi juga difitnah secara keji sebagai “pelakor” semata-mata untuk mendiskreditkan perjuangannya mengungkap penyimpangan yang merugikan rakyat. Lebih mengerikan lagi, nyawanya terancam dibakar hidup-hidup bersama kendaraan yang ditumpanginya.

Peristiwa kelam ini terjadi pada Selasa sore (30/6), tak lama setelah pukul 13.00 WITA. Bersama rekannya, Dian, Ernawati mendatangi kawasan Limbung berbekal data lengkap tentang aliran distribusi solar ilegal, daftar pelansir, hingga SPBU yang diduga terlibat. Namun, keberanian mereka justru dibalas dengan teror fisik dan verbal yang menjijikkan.

Saat sedang mendokumentasikan area yang berbau menyengat sisa bahan bakar dan tertutup terpal biru, pemilik lahan segera menghubungi sosok bernama Firman—tokoh kunci dalam jaringan penimbunan tersebut. Firman tiba bersama istrinya dan sekelompok orang yang sengaja dimobilisasi untuk menghalangi penyelidikan. Yang terjadi selanjutnya bukan dialog, melainkan pembungkusan paksa melalui kekerasan dan stigma gender.

BACA JUGA:  👉 “Bendera Merah Putih Robek Sejak Agustus 2025 Masih Berkibar di CV Jasa Garuda, Tuai Sorotan” 🔥

Firman dan antek-anteknya tidak segan menyebut Ernawati sebagai “pelakor”—fitnah klasik yang sering digunakan untuk merendahkan perempuan yang kritis. Stigma ini kemudian dipakai sebagai pembenaran untuk memprovokasi warga agar ikut menyerang. Situasi memuncak ketika tiga orang langsung mengeroyok Ernawati, merusak mobilnya, memblokir jalan keluar, merampas ponsel dan perhiasan, serta menarik-narik tubuhnya demi merebut kunci kendaraan. Ancaman pembakaran kendaraan pun dilontarkan, menunjukkan betapa putus asanya para pelaku menutupi jejak kejahatan mereka.

Untungnya, sebagian warga yang masih memiliki nurani segera melapor ke kepolisian. Tim Jatanras Polres Gowa, Polsek Bajeng, dan unit PPA berhasil menyelamatkan kedua korban tepat waktu sebelum tragedi yang lebih besar terjadi. Korban kini diamankan di Polsek Bajeng dan akan diproses lebih lanjut oleh tim PPA Polres Gowa.

BACA JUGA:  Oknum Lapak Singkong - Di Duga Jarah Buah Singkong Luas 3 Hektare Milik Warga Gunung Maknibai

Keesokan harinya, penyidik kembali ke lokasi untuk olah TKP. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penahanan tersangka maupun perkembangan kasus penimbunan solar itu sendiri.

Kasus ini bukan sekadar tindak pidana biasa. Ini adalah cermin dari bagaimana kekuasaan lokal menggunakan kekerasan fisik dan kekerasan berbasis gender untuk melindungi kepentingan ekonomi gelap. Fitnah “pelakor” adalah senjata murah untuk membungkam perempuan kritis, sementara ancaman pembakaran menunjukkan bahwa para pelaku merasa aman karena didukung oleh struktur yang korup.

Masyarakat menuntut kepolisian tidak hanya menangani kasus penganiayaan terhadap Ernawati, tetapi juga mengusut tuntas jaringan penimbunan solar bersubsidi di balik kekerasan ini. Jangan biarkan perempuan yang berjuang untuk kepentingan umum justru jadi korban ganda: dianiaya tubuh dan dicemari nama baiknya. Penegakan hukum harus tegas, adil, dan bebas dari bias gender. Jika negara gagal melindungi mereka yang berani bersuara, maka siapa lagi yang akan berani mengungkap kebobrokan?

BACA JUGA:  Kabar Duka - Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun Hernani Binti M. Nur Isteri Mantan Kades Kembang Tanjung

(BrataNewsTV/Liputan Khusus)

banner 325x300