JAKARTA-BrataNewsTV-Ketegangan publik terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki fase paling kritis. Ditambahnya siaran Aliansi Pemantau Program Badan Gizi Nasional (APPBGN) yang baru saja mengeluarkan pernyataan yang sangat mengkhawatirkan dan publik menduga bernuansa propokatif.
Mereka secara terbuka mengajak relawan MBG dan Satuan Pelayanan Penyediaan Gizi (SPPG) yang terafiliasi dengan BGN untuk menggelar ” Aksi Nasional ” sebagai bentuk dukungan dengan program MBG ini untuk di lanjutkan dengan mengerahkan 1 juta massa di seluruh Indonesia.
Ajakan ini disiarkan secara publik dan di sampaikan lansung oleh pihak APPBGN di akun tiktok resmi APPBGN pada Rabu (24/6/2026).
Langkah ini bukan sekadar demonstrasi dukungan, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas sosial. Di saat rakyat kini masih trauma atas ribuan kasus-kasus keracunan pelajar. Dan penahanan tiga begundal eks pimpinan BGN akibat korupsi berjamaah, serta geram melihat ibu-ibu dibayar Rp100 ribu hanya untuk jadi figuran demo, ajakan mobilisasi jutaan orang justru berpotensi memicu konflik kepentingan dan gesekan horizontal antara kelompok pro dan kontra.
Ajakan “Aliansi Pemantau Program BGN” publik menilai rencana ini akan semakin menciptakan suasana yang makin tidak kondusif.” Bagaimana mungkin aksi sebesar itu bisa berjalan damai ketika fondasinya rapuh? Program MBG ini telah kehilangan legitimasi moralnya.
“Dana ratusan triliun itu, yang seharusnya menjadi hak anak bangsa terbukti masuk ke “septic tank” koruptor melalui yayasan afiliasi. Sementara itu, guru honorer dan PPPK masih hidup dalam ketidakpastian kesejahteraan, dan orang tua murid masih menahan tangis di rumah sakit karena anaknya keracunan menu proyek.
Mengajak 1 juta orang turun ke jalan dalam kondisi yang seperti ini sama saja dengan menyiram bensin pada bara api kemarahan publik.
“Ini bukanlah perjuangan rakyat, ini adalah manuver politik yang berisiko mengubah perbedaan pendapat menjadi kekerasan fisik antar warga. Siapa yang diuntungkan jika terjadi bentrokan?
Bukan anak-anak yang butuh gizi, bukan guru yang butuh sejahtera, tapi para oknum begundal yang ingin mengalihkan perhatian dari skandal korupsi mereka.
Realitas di lapangan sudah terlalu jelas tak lagi untuk ditutupi oleh kerumunan massa bayaran. MBG saat ini hanyalah tidak ubah proyek berkedok gizi yang dirancang untuk memperkaya segelintir elit dan merampok uang rakyat secara sistematis.
“Penangkapan 3 (tiga) mantan pejabat BGN dan 3 (tiga) swasta, oleh Kejaksaan Agung adalah bukti hukum yang tak terbantahkan.
Modus korupsi, via yayasan afiliasi sudah menunjukkan bahwa program ini sejak awal memang cacat niat. ” Memaksakan untuk kelanjutan program ini lewat tekanan massa bukan solusi, melainkan kejahatan demokrasi dan keamanan nasional.
Kami menyeru kepada Aliansi Pemantau BGN dan semua pihak yang terlibat. Sadari konsekuensi dari ajakan Anda! ungkap dari seorang warga yang indentitasnya tak bisa disebutkan demi untuk keamanan.
Mobilisasi massa 1 juta di t engah krisis kepercayaan ini bukan tanda kekuatan, tapi tanda kepanikan dari pada elite yang takut terbongkar. Jika benar-benar peduli pada gizi anak, buktikan dengan transparansi anggaran, audit forensik secara total, dan penghentian segera program yang korup ini. Jangan jadikan rakyat sebagai tameng hidup bagi kepentingan perut yourselves.
Kepada pemerintah dan aparat keamanan. Waspadai potensi provokasi ini dan jangan biarkan perbedaan sikap terhadap MBG ini berubah menjadi konflik horizontal yang merusak persatuan bangsa. Rakyat sangat menanti ketegasan hukum, baik itu korupsi maupun eksploitasi massa.
Rakyat Indonesia menginginkan keadilan, bukan kerusuhan. Stop MBG yang korup, selamatkan anggaran untuk pendidikan dan kesejahteraan guru, dan jangan pernah lagi gunakan nama anak-anak dan rakyat untuk membenarkan perampokan negara.
Stabilitas bangsa jauh lebih berharga tentu daripada ambisi politik dari segelintir orang yang serakah,” tandas si Fulan.
(BrataNewsTV/Liputan Investigasi Khusus)













