PHOTO MELVA MARIA ROSA PARDEDE
JAKARTA, BrataNewsTV – Kemarahan publik meledak usai terungkapnya identitas seorang wanita yang diduga kuat menjadi otak provokasi di balik narasi fitnah “AMPB mengkhianati massa ojol”. Namanya: Melva Maria Rosa Pardede. Warga Sumatera Utara yang berdomisili di Jalan Haji Ung No. 17E, RT 001 RW 002, Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, ini dituding menggunakan atribut ojek online (ojol) secara tidak sah untuk membenturkan antar-kelompok dan menciptakan kekacauan (chaos) di Ibu Kota.
Aliansi Masyarakat Sipil dan komunitas ojol asli menuntut Kapolri serta Kapolda Metro Jaya segera memerintahkan jajarannya untuk menangkap dan memproses hukum wanita tersebut. Tindakannya bukan sekadar hoaks biasa, melainkan hasutan berisiko tinggi yang memenuhi unsur provokasi dan pemecah belah bangsa.
Berdasarkan penelusuran lapangan, Melva Maria Rosa Pardede bukanlah pengemudi ojek online atau mitra ShopeeFood sebagaimana klaimnya di media sosial. Ia diduga merupakan eks aktivis yang pernah terlibat dalam tim sukses (timses) politik tertentu. Motifnya dinilai jelas: ingin membuat Jakarta kacau balau dengan cara membenturkan elemen masyarakat sipil yang sedang bersatu melawan oligarki.
“Dia memakai topeng ojol, tapi tujuannya merusak. Dia bukan korban, dia adalah dalang!” seru salah satu koordinator aksi damai yang merasa namanya dicoreng oleh narasi Melva.
Narasi yang disebarluaskan Melva mengklaim bahwa AMPB lari dan meninggalkan massa ojol tanpa hasil. Fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Sebelum membubarkan diri, perwakilan AMPB telah menyampaikan melalui mobil komando di depan Gedung DPR RI bahwa dua tuntutan utama telah disepakati:
1. Pengesahan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026.
2. Komitmen pengunduran diri Pimpinan DPR jika ingkar janji.
“Tujuan kami sudah tercapai secara substansial. Kami pamit baik-baik. Teman-teman ojol yang ikut aksi juga memahami dan ikhlas karena tujuan utamanya adalah UU, bukan kerusuhan. Kenapa Melva baru muncul setelah kami pulang? Ini jelas upaya sabotase,” tegas perwakilan AMPB.
Gedung DPR RI adalah milik rakyat. Jika elite politik tidak mau mendengar aspirasi di Jakarta, mereka bisa saja pindah ke Kalimantan, Sumatera, atau Papua. Namun, selama gedung itu ada di Senayan, rakyat akan terus datang. Provokasi Melva justru mencoba mengalihkan isu dari substansi korupsi ke isu SARA dan perpecahan kelas pekerja.
Publik menilai diamnya aparat terhadap penyebar hoaks berbahaya ini adalah kelalaian fatal. Melva Maria Rosa Pardede telah memicu ketegangan yang berpotensi berujung pada anarki. Unsur pasal tentang penyebaran berita bohong yang menimbulkan keonaran (Pasal 14 UU No. 1 Tahun 1946 jo. Pasal 263 KUHP) serta hasutan kebencian/ketegangan antar golongan sudah terpenuhi.
Kami mendesak:
1. Kapolri dan Kapolda Metro Jaya segera menerjunkan satuan siber dan reserse untuk mengamankan Melva Maria Rosa Pardede.
2. Lakukan verifikasi status keanggotaannya di aplikasi ojek online. Jika terbukti palsu, tambahkan pasal penipuan.
3. Usut tuntas siapa backing politik di belakangnya, mengingat latar belakangnya sebagai eks timses.
Jangan biarkan Jakarta terbakar hanya karena ulah satu orang provokator yang ingin mengadu domba rakyat. Keamanan dan ketertiban umum adalah harga mati. Tangkap Melva, bongkar jaringan provokasinya, dan tegakkan hukum setajam-tajamnya!
(Penulis/Editor: Redaksi BrataNewsTV)
Catatan Redaksi:
Pemberitaan ini didasarkan pada laporan masyarakat dan temuan data identitas yang beredar luas terkait dugaan provokasi. Nama “Melva Maria Rosa Pardede” dan alamat lengkap disebutkan sesuai dengan permintaan sumber informasi untuk keperluan identifikasi oleh aparat penegak hukum. BrataNewsTV menjunjung asas praduga tak bersalah; penetapan kesalahan sepenuhnya menjadi kewenangan pengadilan setelah melalui proses penyidikan yang adil oleh Kepolisian
(Penulis/Editor: Redaksi BrataNewsTV)












