Baca dan Nonton Berita dalam Satu Genggaman
LoginIndeks

Emak-Emak Mengguncang Jakarta Tuntut Penghentian Program MBG

banner 120x600

Jakarta Pusat BrataNewsTV– Ironi politik tengah menyelimuti Monumen Nasional. Belum genap satu minggu, ada gelombang dukungan sekelompok warga bergema di Patung Kuda mereka menuntut kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini suara yang sama berbalik arah dengan kemarahan yang lebih membara.

Pada Kamis (18/6/2026), ribuan wanita yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia turun ke jalan protokol ibu kota. Bukan untuk meminta, melainkan untuk menuntut penghentian total program MBG dan menuntut penurunan harga kebutuhan pokok (Pangan). Aksi ini menjadi tamparan keras bagi narasi pemerintah yang selama ini mengklaim program tersebut sebagai solusi tunggal kesejahteraan rakyat.

Long March Penuh Simbol: Wajan dan Panci Jadi Senjata Protes

Suasana Jakarta Pusat lumpuh sejak pagi. Massa yang didominasi oleh para ibu-ibu rumah tangga alias (“emak-emak”) dengan seragam khas baju merah muda mereka melakukan long march dari Dukuh Atas, melewati Bundaran HI, hingga berakhir di area Patung Kuda.

Yang membuat aksi ini berbeda dan “menohok” adalah atribut yang mereka bawa. Tidak ada spanduk politik biasa. Sebagai gantinya, para demonstran mereka membawa alat-alat dapur, wajan, panci, centong, dan cobek.

BACA JUGA:  Kacab Samsat OKU Timur Kena Priming Publik Terkait Skandal Mark-up Pajak

“Ini adalah simbol jeritan kami. Wajan ini kosong karena harga beras melambung. Panci ini tidak bisa mendidih karena harga BBM membuat gas elpiji jadi barang mewah. Kami lelah dijadikan objek pencitraan program MBG sementara dapur kami sendiri hampir tidak mengepul,” teriak salah satu koordinator aksi melalui pengeras suara, disambut sorak-sorai massa.

Tuntutan Tiga Poin: Stop MBG, Turunkan BBM & Sembako.

Orasinya, Aliansi Perempuan Indonesia ini menyampaikan tiga tuntutan utama yang dianggap sebagai akar masalah:

1. Hentikan Program MBG: Dinilai sebagai pemborosan APBN yang tidak tepat sasaran dan justru memicu inflasi bahan pangan lokal.

2. Turunkan Harga BBM: Karena kenaikan energi berdampak domino pada semua sektor kehidupan.

3. Stabilkan Harga Bahan Pokok: Terutama beras, minyak goreng, dan telur yang harganya telah mencapai titik kritis bagi rumah tangga menengah ke bawah.

“Pemerintah tengah sibuk membanggakan statistik MBG, tapi lupa bahwa uang untuk program itu sebenarnya bisa digunakan untuk subsidi langsung yang bermanfaat dan lebih mendesak.

BACA JUGA:  Kepala Desa Suka Jaya Pimpin MUSRENBANGDes

Kami tidak butuh makan siang gratis jika malamnya kami tidak punya uang untuk beli beras!” tambah seorang demonstran bernama Siti Aminah (45) dengan nada tinggi.

Kontras yang Menyakitkan

Aksi hari ini menciptakan kontras yang menyakitkan dengan demonstrasi serupa beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya MBG dilihat sebagai “penyelamat”, kini ia justru dipandang sebagai “beban”.

“Pergeseran opini publik ini menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan masyarakat ketika kebijakan ekonomi makro tidak bersahabat dengan daya beli mikro.

Kehadiran polisi dalam jumlah besar mengamankan rute long march, namun tensi tetap terasa tinggi. Sesekali terjadi adu argumen antara massa dengan aparat yang mencoba mengalihkan rute, namun para ibu-ibu tersebut tetap teguh pada jalur yang telah direncanakan menuju Patung Kuda.

Pesan Untuk Istana

Sebelum para demonstran membubarkan diri, selaku perwakilan Aliansi Perempuan Indonesia meninggalkan sebuah petisi simbolis berupa tumpukan struk belanjaan yang harganya melonjak drastis di depan gerbang kawasan istana.

“Kami bukan anti dengan pemerintah, kami pro-rakyat. Jika MBG hanya menjadi alat politik sambil membiarkan rakyat kelaparan karena harga sembako, maka lebih baik dihentikan. Dengarkan suara wajan kami yang kosong!” tutup koordinator aksi.

BACA JUGA:  Insiden Persekusi Wartawan Terduga Ketua Ormas PLB - Dilaporkan Korban Di Polda Lampung

Hingga sore ini, belum ada tanggapan resmi dari Juru Bicara Presiden terkait tuntutan mendadak dan masif dari Aliansi Perempuan Indonesia ini.

Namun, satu hal Pasti” Jakarta hari ini tak hanya macet oleh kendaraan, tetapi juga oleh kemarahan kaum ibu yang merasa dikhianati oleh janji-janji manis politik pada saat berkampanye, sebelum Prabowo dan Gibran menjadi Presiden & Wakil Presiden,- (Red).

 

banner 325x300