IRONI RETORIKA “LONDO IRENG” SENJATA MAKAN TUAN : LELUHUR GARIS IBU DARI PRABOWO MEMBANTU BELANDA PERANG DIPONEGORO!

banner 120x600

JAKARTA, BrataNewsTV – Retorika Presiden Prabowo Subianto yang melabeli wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai “Londo Ireng” pada Harlah ke-28 PKB Juli 2026 kini menjadi bumerang politik yang tajam.

Istilah kolonial yang dimaksudkan untuk menyerang pilar-pilar demokrasi justru membuka tabir sejarah kelam leluhurnya sendiri dari garis ibu, yang tercatat pernah membantu pemerintah Hindia Belanda untuk menumpas perlawanan Pangeran Diponegoro.

Publik menilai penggunaan kata istilah ini sebagai bentuk “SENJATA MAKAN TUAN”. Secara historis, tuduhan netizen merujuk pada silsilah keluarga Sigar dari garis ibu Prabowo (Dora Marie Sigar).

Kakek buyutnya, Benjamin Thomas Sigar, merupakan pemimpin Pasukan Tulungan, milisi asal Minahasa yang dikirim Belanda ke Jawa tepatnya pada 1829. Pasukan ini khusus untuk mematahkan perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro di dalam Perang Jawa (1825–1830).

Hubungan kekerabatan ini bahkan pernah dikonfirmasi langsung oleh Prabowo yang melalui unggahan di media sosial di saat melayat ke makam Benjamin Thomas Sigar di Langowan, Sulawesi Utara.

BACA JUGA:  Kapolres Lampung Utara - Sosialisasi "Satgas Saber" Pungli

Secara harfiah, bahwa “Londo Ireng” berarti “Belanda Hitam”, awalnya merujuk pada tentara Afrika Barat yang direkrut KNIL pasca-Perang Diponegoro. Namun, makna istilah ini telah bergeser menjadi ejekan bagi pribumi yang membela kepentingan penjajah ketimbang bangsanya sendiri.

Ironisnya, ketika Prabowo menggunakan istilah ini untuk menyudutkan insan pers dan LSM di tanah air Indonesia. Ia secara tidak langsung menghidupkan kembali narasi tentang leluhurnya yang berada di sisi dua arah berlawanan dengan pahlawan nasional.

Di sisi lain, silsilah garis ayah Prabowo (Keluarga Djojohadikusumo) justru di akui dan mencatat di sejarah heroik melawan kolonialisme.

Raden Tumenggung Banyakwide, panglima perang yang sangat setia dengan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah. Kakeknya, RM Margono Djojohadikusumo, adalah pendiri BNI dan anggota BPUPKI yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

BACA JUGA:  Oknum Kades Telok Pandan Insial NL Disinyalir Membuat Keterangan Hoax

Sementara pamannya, Kapten Subianto Djojohadikusumo sendiri, gugur di dalam Pertempuran Lengkong melawan Jepang pada Januari 1946.

Fakta sejarah ini tentu menunjukkan bahwa Prabowo memiliki darah campuran yang paradoks: leluhur garis ayah bertempur bersama Diponegoro melawan Belanda, sementara leluhur garis ibunya dikerahkan Belanda untuk menumpas seluruh pasukan Diponegoro.

Penggunaan istilah “Londo Ireng” di dalam konteks politik modern dinilai tidak hanya menghina integritas pers, tetapi juga sudah mengaburkan kompleksitas dalam sejarah bangsa itu sendiri.

Publik mempertanyakan: Apakah seorang pemimpin bangsa pantas menggunakan terminologi kolonial yang sarat stigma penghinaan di gunakan untuk menyerang warga negaranya? Sejarah membuktikan bahwa leluhur dari kedua garis keluarga Prabowo sama-sama bagian dari mosaik perjuangan dan pergolakan bangsa.

Menempelkan label “pengkhianat” pada profesi tertentu dan indentitas, kelompok ini justru mencederai semangat persatuan dan kesatuan, yang seharusnya dijaga oleh kepala negara.

BACA JUGA:  Piala Pangkormar Marine's Grasstrack Champhionship 2025, Meriahkan HUT Korps Marinir Ke 80

Hingga berita ini diturunkan kembali, Istana belum memberikan klarifikasi mengenai kesadarannya akan latar belakang historis istilah tersebut. Namun, ada satu hal yang pasti. Retorika yang dibangun di atas luka masa lalu tidak akan pernah menghasilkan kepemimpinan yang dapat menjamin satu persatuan bangsa secara utuh. (Red)

banner 325x300