LAMPUNG – BrataNewsTV – Asap hitam dari ban bekas yang dibakar di tengah jalan bukan sekadar simbol kemarahan rakyat , melainkan sinyal bahaya bagi kekuasaan. Ratusan massa yang memadati jalanan di Lampung, Senin, 15/6/2026, hari ini mereka datang bukan untuk bersandiwara. Mereka membawa enam tuntutan konkret yang menjadi cerminan kegagalan total negara dalam memenuhi hak dasar warganya.
Di saat elite politik sibuk memoles citra program populis, rakyat di lapangan justru menelan pil pahit realitas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim sebagai “warisan emas” kini bermetamorfosis menjadi ladang korupsi triliunan rupiah, sementara harga BBM mencekik leher ekonomi rakyat kecil. Enam poin tuntutan yang digaungkan massa hari ini adalah daftar panjang kekecewaan yang tak lagi bisa dibungkam:

Enam Tuntutan yang Mengguncang Singgasana Kekuasaan
1. Hentikan Total Program MBG yang Cacat dan Korup: Rakyat menolak menjadi kelinci percobaan proyek pencitraan yang busuk. Dengan penetapan tersangka tiga petinggi BGN, modus dapur fiktif, dan kasus keracunan massal yang terus bermunculan, melanjutkan MBG sama dengan membiarkan negara merampok anggaran pendidikan demi kepuasan politik sesaat.
2. Turunkan Harga BBM dan Akhiri Kelangkaan Solar/Pertalite: Kebijakan energi telah gagal total. Saat rakyat antre berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar dan harga sembako meroket akibat biaya logistik, elite justru menikmati fasilitas mewah. Penurunan harga BBM bukan permintaan, melainkan kewajiban negara untuk menyelamatkan daya beli yang sekarat.
3. Tegakkan HAM Secara Substantif, Bukan Slogan: Demokrasi sedang sakit parah. Suara kritis dibungkam, aktivis dipidanakan, dan ruang sipil dipersempit atas nama “stabilitas”. Massa menuntut kebebasan berpendapat, hak atas pendidikan, dan perlindungan dari represi aparat sebagai hak asasi yang tidak boleh dinegosiasikan.
4. Audit Forensik Transparan Atas Anggaran Negara: Rakyat muak dengan audit kosmetik. Diperlukan pemeriksaan forensik menyeluruh terhadap penggunaan APBN, khususnya pos pendidikan dan kesehatan, untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam penggelembungan harga dan suap balik. Tidak ada lagi amplop tertutup atau vonis ringan bagi koruptor kelas kakap.
5. Cabut Regulasi Represif dan Hentikan Kriminalisasi Aktivis: Aturan yang digunakan untuk membungkam kritik harus dicabut. Mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil yang menyuarakan aspirasi konstitusional tidak boleh dijadikan tersangka. Hukum harus menjadi pelindung rakyat, bukan alat represif penguasa untuk mempertahankan kursi kekuasaan.
6. Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Daerah 3T Daripada Proyek Populis: Ratusan triliun yang dihamburkan untuk MBG seharusnya dialihkan untuk membangun jalan, jembatan, dan akses pasar di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ekonomi rakyat tidak akan tumbuh dengan membagi nasi bungkus, melainkan dengan konektivitas yang membuka isolasi dan menurunkan biaya hidup.

Pesan dari Jalan: Kesabaran Telah Hangus
Visual ban terbakar di depan gedung pemerintahan adalah metafora yang jelas: kesabaran rakyat sedang hangus. Mereka yang turun ke jalan hari ini mewakili jutaan suara yang selama ini dibungkam oleh intimidasi, pasal karet, atau apatisme.
Kepada para pemegang kekuasaan: Dengarkanlah gemuruh enam tuntutan ini. Itu bukan suara pengganggu, melainkan alarm peringatan bahwa kapal negara sedang bocor di banyak titik. Jika Anda masih memilih menutup telinga dan menganggap demo ini sebagai gangguan keamanan, maka sejarah akan mencatat bahwa kehancuran rezim selalu dimulai dari ketulian terhadap jeritan rakyatnya.
Rakyat Lampung hari ini telah berbicara lantang dengan enam poin yang tak bisa ditawar. Pertanyaannya sekarang: Apakah penguasa akan menjawab dengan perbaikan nyata, atau justru merespons dengan peluru karet dan penangkapan massal?
Karena ketika ban terbakar di aspal, itu tanda bahwa api perubahan sudah menyala di hati rakyat. Dan api enam tuntutan ini tidak akan padam sebelum keadilan ditegakkan dan kedaulatan rakyat dikembalikan,- (Red)













