Baca dan Nonton Berita dalam Satu Genggaman
LoginIndeks

PINTU RAHASIA DI CIPETE : SIMBOL KEADILAN YANG TERKUNCI DAN KORUPSI YANG TERSEMBUNYI

Reporter di Brata News TV
banner 120x600

BrataNewsTV – Penyidik Korstipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya menggeledah Cafe de’Clan Signatur di Cipete, Jakarta Selatan. Restoran mewah yang diduga kuat merupakan aset terselubung milik mantan pejabat Jampidsus Kejaksaan Agung, Febri Adriansyah, ini bukan hanya sekadar lokasi penggeledahan biasa, 8/7/2026

Di balik pintu tersembunyi setinggi 2 (dua) meter,” Ditemukan sebuah brankas besi raksasa. Temuan ini terkait penyidikan TPPU, suap Asabri, dan kasus korupsi batu bara. Namun, bagi publik yang telah lama kehilangan kepercayaan pada institusi dan penegak hukum, brankas ini bukan sekadar wadah uang; ia adalah monumen sesuatu kegagalan moral para penjaga keadilan itu sendiri.

Pintu Rahasia: Metafora Sistem Peradilan yang Tertutup

Mari kita bedah simbolisme yang begitu menyakitkan ini. Sebuah restoran milik mantan jakat penuntut umum tertinggi, yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi—memiliki pintu rahasia. Pintu yang tidak terdaftar dalam denah resmi, pintu yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang terpilih, pintu yang dirancang untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan publik. Ini adalah replika sempurna dari cara kerja sistem peradilan pidana Indonesia saat ini: tertutup, eksklusif, dan penuh rahasia.

BACA JUGA:  HGU PT AKG - Terindikasi Ilegal - Masyarakat Adat Gelar Aksi Damai

Ketika rakyat kecil harus mengantre berjam-jam di kantor polisi atau pengadilan untuk mendapatkan hak dasar mereka, elite penegak hukum justru membangun arsitektur kepalsuan di mana kejahatan disembunyikan di balik dinding kedap suara. Brankas setinggi dua meter itu bukan tanda kekayaan; itu adalah tanda ketakutan. Ketakutan akan transparansi, ketakutan akan akuntabilitas, dan ketakutan bahwa suatu hari nanti, rakyat yang selama ini dibodohi akan mengetuk pintu tersebut dan menuntut isinya dikembalikan kepada negara.

Paradoks “Pemberantas Korupsi” yang Menjadi Tersangka Korupsi

Febri Adriansyah, yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan Hukum dan kemudian naik ke posisi strategis di Jampidsus, kini bakal terseret menjadi tersangka dalam kasus yang sama-sama ia seharusnya basmi. Ini bukan sekadar ironi; ini adalah bukti struktural bahwa rotasi jabatan di Kejaksaan Agung bukanlah mekanisme pembersihan, melainkan sirkulasi kekuasaan yang membusuk dari dalam. Suap Asabri, korupsi batu bara, TPPU—semua nama besar ini bermuara pada satu pola: kolusi antara regulator dan pelaku usaha, difasilitasi oleh oknum yang memegang stempel kejaksaan.

BACA JUGA:  Sopir Travel Asal Lampung Utara Ditemukan Tewas

Penggeledahan paksa di Cafe de’Clan Signatur seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi aparat. Namun, mengapa rasanya pahit? Karena publik tahu bahwa penemuan brankas ini hanyalah puncak gunung es. Berapa banyak “pintu rahasia” lain yang belum diketuk? Berapa banyak brankas serupa yang masih terkunci rapat di rumah-rumah pejabat lain yang belum tersentuh hukum? Apakah penggeledahan ini benar-benar upaya penegakan hukum, atau sekadar pertunjukan teatrikal untuk meredam amarah publik sesaat?

Tuntutan: Buka Semua Pintu, Bukan Hanya Satu

Publik tidak puas dengan satu brankas yang dibuka. Kami menuntut:

1. Audit Total Aset Pejabat Kejaksaan: Tidak hanya Febri Adriansyah, tapi seluruh jajaran Jampidsus periode 2019–2024. Periksa aliran dana, kepemilikan bisnis terselubung, dan hubungan dengan korporasi tambang/pensiun.

2. Transparansi Penyidikan: Hentikan budaya “rahasia dinas” yang digunakan untuk melindungi sesama aparat. Publik berhak tahu progres nyata penyidikan TPPU dan suap Asabri, bukan sekadar rilis pers yang dramatis.

3. Reformasi Struktural Jampidsus: Ubah mekanisme rekrutmen, promosi, dan pengawasan internal. Jangan biarkan lembaga yang bertugas memberantas korupsi menjadi sarang korupsi itu sendiri.

BACA JUGA:  Ini! Sederetan Nama-Nama Oknum Jaksa Yang Terlibat Skandal Tilap Uang Barang Bukti 23,9 Miliar

4. Pemulihan Aset Negara: Pastikan isi brankas dan aset Cafe de’Clan Signatur tidak hilang dalam proses hukum. Kembalikan kepada kas negara untuk pembangunan infrastruktur dan layanan publik, bukan untuk biaya perkara yang menguap.

Pintu rahasia di Cipete telah terbuka. Tapi pertanyaannya tetap menggantung: apakah ini awal dari pembersihan sistemik, atau hanya babak baru dari drama hukum yang akan segera dilupakan? Rakyat sudah lelah dengan pintu-pintu tertutup. Saatnya semua pintu dibuka, dan keadilan tidak lagi disembunyikan di balik brankas besi.

(Editor : BrataNewsTV)

banner 325x300